Review Jurnal Etika
Profesi Akuntansi
28 OCTOBER
2017 BY BELLA NITA PERMATASARI
ANALISIS PERBEDAAN
PERILAKU ETIS AUDITOR
DI KAP DALAM ETIKA
PROFESI
(STUDI TERHADAP
PERAN FAKTOR-FAKTOR INDIVIDUAL: LOCUS OF CONTROL, LAMA
PENGALAMAN KERJA, GENDER, DAN EQUITY SENSIPTIVITY)
PUTRI
NUGRAHANINGSIH
Alumni Fakultas
Ekonomi UNS
DIREVIEW OLEH :
BELLA NITA
PERMATASARI
BELLA P SAPHIRA
MAYANG AULIA
NUR AMALINA
REGGINA RACHMADEWI
SINDY DYAH
PURBOSARI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Isu tentang etika akuntan diindonesia berkembang dengan terjadinya pelanggaran
yang dilakukan oleh anggota intern, anggota publik, dan seseorang yang
memainkan peran kunci dalam semua area. Kewajiban akuntansi yang dilakukan
tersebut untuk menjaga perilaku etis mereka terhadap organisasi dimana mereka
meraung. Tanggung jawab yang dimiliki akuntan juga menjadi kompeten dan menjaga
integritas mereka. Seorang akuntan sering menghadapi dilema etik yang selalu
bertentangan. Misalnya terjadi pada saat seorang auditor dan klien tidak
sepakat dalam tujuan pemeriksaan dan aspek fungsi. Dalam konflik ini,
pertimbangan profesional berdasarkan pada nilai dan keyakinan individu, dan
kesadaran moral sangat penting dalam mengambil keputusan akhir. (Muawanah dan
Indriantoro, 2001). Pembahasan ini mengenai keinginan untuk mengubah perilaku
menjadi perilaku yang diinginkan.
Faktor utama yang menjadi penelitian ini adalah pada penelitian Fauzi (2001)
hanya meneliti perbedaan etis ditemoat kerja secara umum, sedangkan pada
penelitian ini akan menganalisi perilaku etis dan dia memfokuskan terhadap
presepsi auditor terhadap kode etika akuntan. Perbedaan dalam penelitian ini
adalah auditor. Penelitian fauzi hanya diambil dari mahasiswa dan sampel dari
auditor. Perbedaan penelitian ini menambahkan satu variabel atribut individu yaitu gender.
Penelitian berpengaruh terhadap etika yang telah dilakukan. Dapat disimpulkan
bahwa pengaruh gender pada etika membuktikan hasil yang berbeda-beda dan belum
konsisten.
Perbedaan keempat yaitu mengubah devinisi dan pengukuran variabel kerja pada
pengalaman kerja. Responden pada pebgubahan ini dijadikan sampel, yaitu auditor
yang memiliki pengalaman kerja.Hal ini juga didukung UU no.34 tahun
1954 yang mengatur penggunaan sebutan akuntan. Untuk dapat berpraktik sebagai
akuntan publik terdaftar, diperlukan izin dari Departemen Keuangan, yaitu
adanya persyaratan pengalaman,minimal 3 tahun bekerja sebagai auditor pada KAP
atau BPKP. Di penelitian ini tidak diukur dari ada atau tidaknya pengalaman
kerja, melainkan lama tidaknya berkerja pada auditor senior dan auditor yunior.
Dipenelitian ini tidak ada pengujian terhadap variabel akademis displin karena
sampel yang digunakan adalah auditor. Penelitian ini sampel yang digunakan
adalah mahasiswa yang dibagi menjadi akuntansi dan manajemen. Pada hal tersebut
dijelaskan bahwa auditor berasal dari akademis displin akuntansi, sehingga
tidak terdapat faktor individual disiplin akademis.
Perumusan Masalah
Perumusan
permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Apakah
terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara auditor
dengan internal locus of control dan auditor dengan external
locus of control?
- Apakah
terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara auditor senior dan
auditor yunior?
- Apakah
terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara auditor pria
dengan auditor wanita?
- Apakah
terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara auditor yang
termasuk kategori benevolents dan auditor yang termasuk
kategori entitleds?
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris apakah
terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara auditor berdasarkan
perbedaan faktor-faktor individualnya yaitu sebagai berikut:
- Perilaku
etis antara auditor dengan internal locus of control dan
auditor dengan external locus of control.
- Perilaku
etis antara auditor senior dan auditor yunior.
- Perilaku
etis antara auditor pria dan auditor wanita.
- Perilaku
etis antara auditor yang termasuk kategori benevolents dan
auditor yang termasuk kategori entitleds.
LANDASAN TEORI
Persepsi
Di dalam penjelasan tentang persepsi seseorang, dapat disimpulkan bahwa
persepsi adalah opini setiap individu tentang segala hal yang berada pada
lingkungan sekitarnya, bisa berupa sesama manusia, benda, hewan, dan lain
sebagainya
Etika Dan Perilaku Etis
Etika beruhubungan dengan perilaku seseorang. Karena berhubungan dengan
perilaku seseorang, etika bisa menjadi benar dan salah dalam kehidupan sosial,
terutama dalam beroganisasi di suatu perusahaan yang sering disebut dengan
etika profesi. Perilaku etis sangat berpengaruh ketika seseorang menjadi
pemimpin dalam profesinya, Auditor misalnya. Ketika Auditor melakukan tindakan
yang tidak etis, maka ia tidak akan mendapat kepercayaan dari teman
se-profesinya tersebut.
Peran Kode Etik Akuntan Indonesia
Pada intinya kode etik mengatur hubungan antar individu. Dalam hal ini
berhubungan dengan profesi akuntan di Indonesia, baik antara auditor dengan
klien.
Faktor-Faktor Individual
Faktor individual dibagi menjadi 4:
1. Locus of control
Pandangan seseorang terhadap suatu peristiwa disekitarnya,
apakah seseorang tsb dapat mengendalikan dirinya atau tidak.
2. Lama pengalaman kerja ( years of job experience )
Lama pengalamana kerja dimaksud kepada bagian profesi
auditor, apakah pihak senior telah bekerja lebih dari 2 tahun dan junior
bekerja dibawah 2 tahun. Lama pengalaman kerja dipengaruhi oleh perilaku etis
3. Konsep gender
Factor ini dimaksudkan apakah pria atau wanita yang sudah
ditakdirkan jenis kelamin masing-masing secara biologis mampu menunjukkan
perilaku etis atau tidak dalam berorganisasi terutama dalam profesi
masing-masing.
4. Equity
Berhubungan dengan fairness ( keadilan )
yang dirasakan seseorang terhadap orang lain. Equity theory oleh
Adam bahwa terdapat tiga tipe individu yaitu individu equity sensitives yang
merasa adil ketika inputs sama dengan outputs,
individu benevolents (kebaikan ) merasa adil (equity)
ketika inputs lebih besar dari outputs, dan
individu entitleds ( Berhak ) merasa adil (equity)
ketika outputs lebih besar dari inputs.
Penelitian Terdahulu
Perbedaan faktor individual dalam kemampuan menerima perilaku etis atau tidak
etis. Hasil menunjukkan bahwa individu dengan internal
locus of control cenderung lebih tidak
menerima tindakan tertentu yang kurang etis, sedangkan individu
dengan external locus of control cenderung lebih
menerima tindakan tertentu yang kurang etis. Wanita ditunjukkan lebih
etis dibandingkan pria.
Hipotesis
- Terdapat
perbedaan perilaku etis antara auditor dengan internal locus of
control dan auditor dengan external locus of control.
- Terdapat
perbedaan perilaku etis antara auditor senior dan auditor yunior.
- Tidak terdapat
perbedaan perilaku etis antara auditor pria dan auditor wanita.
- Terdapat
perbedaan antara perilaku etis auditor benevolent dan
auditor entitleds
METODE PENELITIAN
Populasi, Sampel dan Metode Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah para auditor yang bekerja di Kantor
Akuntan Publik (KAP) wilayah Surakarta dan DIY. dalam penelitian ini untuk
menentukan sampel peneliti menggunakan metode non probability sampling,
yaitu convenience sampling method. Dalam metode ini,
informasi akan dikumpulkan dari anggota populasi yang dapat ditemui dengan
mudah untuk memberikan informasi tersebut.
Pengukuran Variabel: Definisi Operasional dan Instrumen
Penelitian
Perilaku etis auditor adalah variabel yang akan diukur dalam penelitian ini.
Variabel ini akan diukur dengan menggunakan instrumen Workplace
Behaviour Scale (WBS). Workplace Behaviour Scale (WBS)
terdiri dari 10 item pertanyaan dalam kuesioner yang diukur dengan 5 poin
skala likert yaitu: (1) sangat dapat diterima, (2) dapat
diterima, (3) tidak pasti, (4) tidak dapat diterima, dan (5) sangat tidak dapat
diterima. Perilaku etis ditunjukkan oleh perolehan skor dari WBS, semakin
tinggi skor WBS maka memiliki perilaku yang semakin etis, sebaliknya semakin
sedikit skor WBS maka memiliki perilaku semakin kurang etis.
Penelitian ini akan memfokuskan pada faktor-faktor atau substansi kode etik
akuntan yang meliputi (1) pelaksanaan kode etik, dan (2) penafsiran dan
penyempurnaan kode etik. Instrumen persepsi ini terdiri dari 11 item pertanyaan
yang diukur dengan skala likert 1 sampai dengan 5 yaitu: (1)
sangat tidak setuju, (t2) tidak setuju, (3) tidak pasti, (4) setuju, dan (5)
sangat setuju. Peneliti mengasumsikan bahwa bagi responden yang berpersepsi
positif terhadap kode etik yang meliputi pelaksanaan kode etik, dan penafsiran
dan penyempurnaan kode etik akan memiliki perilaku yang lebih etis. Untuk
mengetahui bagaimana persepsi auditor terhadap kode etik maka dilakukan
analisis tambahan yaitu dengan uji proporsi.
Locus
of control (LOC). Locus of control (LOC) adalah cara
pandang seseorang terhadap suatu peristiwa apakah dia dapat atau tidak dapat
mengendalikan (control) peristiwa yang terjadi padanya.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel locus of control adalah Work
Locus of Control Scale (WLCS) yang telah dikembangkan oleh Spector (1988).
WLCS menggunakan 16 item pertanyaan dengan 5 poin skala likert yaitu:
(1) sangat tidak setuju, (2) tidak setuju, (3) tidak pasti, (4) setuju, dan (5)
sangat setuju. Internal LOC ditunjukkan oleh nilai jawaban
responden yang lebih kecil dari mean score dan sebaliknya untuk external LOC
diindikasikan oleh nilai jawaban responden lebih besar dari mean
score.
Lama pengalaman kerja adalah jangka waktu (tahun) seorang auditor bekerja. Lama
pengalaman kerja dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu mereka yang
telah bekerja lebih dari dua tahun dikategorikan sebagai auditor senior dan
mereka yang bekerja di bawah dua tahun sebagai auditor yunior. Data ini
diperoleh dari kuesioner bagian D yaitu Data Demografi Responden.
Konsep gender dalam penelitian ini berdasarkan konsep seks (jenis kelamin).
Pengertian jenis kelamin merupakan kodrat yang ditentukan secara biologis.
Dibagi menjadi dua yaitu pria dan wanita. Data ini diperoleh dari kuesioner
bagian D yaitu Data Demografi Responden. Equity berhubungan
dengan fairness (keadilan) yang dirasakan seseoang dibanding
orang lain. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel equity
sensitivity adalah Equity Sensitivity Instrument (ESI)
yang dikembangkan oleh Huseman (1985), yang terdiri dari 5 pertanyaan dengan
nilai ESI berkisar 0-10 untuk tiap pertanyaan. Untuk menskor instrumen, maka
tambahkan poin-poin yang dialokasikan untuk respon benevolents (1a,
2a, 3b, 4b, 5b). Seorang individu akan masuk kategori entitleds apabila
nilai < meanscore, dan kategori benevolents apabila
nilai > meanscore.
Sumber dan Pengumpulan Data
Data yang digunakan terbagi menjadi 2, data primer dan data sekunder. Data
primer digunakan dengan cara mengisi kuesioner. Jadi peneliti memberi kertas
yang berisi pertanyaan kepada koresponden lalu akan di uji oleh koresponden.
Sedangkan untuk data sekunder peneliti hanya langsung mengambil /mengutip dari
sumber-sumber yang sudah ada.
Metode Analisis Data
Pengujian validitas yang digunakan adalah validitas konstrak dan teknik yang
digunakan Pearson Product Moment . Untuk semua teknik analisis
data peneliti menggunakan applikasi SPSS versi 11 untuk windows. Sedangakn
untuk uji realibitas menggunakan realibitas konsistensi internal. Untuk uji
normalitas digunakan One Sample Kolmogorov Smirnov Test yaitu
peungujian 2 sisi dengan tujuan untuk membandingkan signifikasi hasil uji
dengan taraf signifikansi. Untuk menguji hipotesis digunakan alat uji statistik
yaitu Indipendent Sample T-Test. Pengujian validitas yang
digunakan adalah validitas konstrak dan teknik yang digunakan Pearson
Product Moment, teknik ini dibagi menjadi 2 tahapan analisis yaitu LLevene’s
Test dan T-Test . Untuk semua teknik analisis data
peneliti menggunakan bantuan applikasi SPSS versi 11 untuk windows. Dilakukan
uji proposisi untuk mengetahui bagaimana presepsi auditor tentang kode etik.
Uji proposisi dilakukan dengan cara menghitung presentase jawaban dari
pertanyaan presepsi kepada kode etik. Jawaban dari pertanyaan tersebut
dikelompokkan dalam format setuju dan tidak setuju.
ANALISIS DATA
Pelaksanaan Penelitian
Peneliti melakukan penyebaran kuesioner kepada responden auditor yang terdapat
di KAP Yogyakarta dan Surakarta. Dengan sampel sebanyak 41 pada KAP Yogyakarta,
serta sampel sebanyak 29 pada KAP Surakarta. Dari total kuesioner sebanyak 70
buah, 3 diantaranya dinyatakan tidak memenuhi syarat. Sehingga total kuesioner
yang dapat digunakan sebanyak 67 buah.
Hasil Pengujian Data
Hasil
uji validitas menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,01 dengan p-value lebih
kecil dari taraf signifkansi sebesar 5%. Sehingga dapat disimpulkan semua item
pertanyaan dalam kuesioner valid. Pada uji reliabilitas yang dilakukan dengan
menghitung Cronbach’s Alpha kemudian nilai alpha
dibandingkan dengan indeks menghasilkan kesimpulan bahwa data yang digunakan
memiliki tingkat reliabilitas yang sangat tinggi. Uji normalitas menunjukkan
nilai p-value sebesar 0,672 lebih besar dari taraf
signifikansi 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Hasil Pengujian Hipotesis
Uji statistik parametrik Independent Sample T-Test digunakan
dalam penelitian ini untuk menguji empat hipotesis yang diajukan. Hasil
pengujian hipotesis yang pertama yaitu nilai signifikansi hasil T-Test sebesar
0,018 maka Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan antara
perilaku etis yang sinifikan antara auditor internal locus of
control dan auditor external locus of control. Dengan
hasil analisis mean perilaku etis auditor internal
locus of control sebesar 39,33 dan mean perilaku etis
auditor external locus of control sebesar 35,14.
Hasil pengujian hipotesis yang kedua yaitu nilai signifikansi hasil T-Test sebesar
0,002 maka Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan perilaku
etis yang sinifikan antara auditor senior dan auditor yunior. Dengan hasil
analisis mean perilaku etis auditor senior sebesar 34,09
dan mean perilaku etis auditor yunior sebesar 39,54.
Hasil pengujian hipotesis yang ketiga yaitu nilai signifikansi hasil T-Test sebesar
0,246 lebih besar dari nilai signifikansi yang ditetapkan yaitu sebesar 0,05
maka Ho diterima. Sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan antara
perilaku etis yang sinifikan antara auditor pria dan auditor wanita. Dengan
hasil analisis mean perilaku etis auditor pria sebesar 36,00
dan mean perilaku etis auditor wanita sebesar 38,10.
Hasil pengujian hipotesis yang keempat yaitu nilai signifikansi hasil T-Test sebesar
0,003 maka Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan perilaku
etis yang sinifikan antara auditor benevolent dan
auditor entitleds. Dengan hasil analisis mean perilaku
etis auditor benevolent sebesar 39,77 dan mean perilaku
etis auditor entitleds sebesar 34,50.
Hasil Uji Proporsi
Penelitian ini juga menggunakan uji proporsi yang bertujuan untuk mengetahui
persepsi auditor terhadap kode etik akuntan Indonesia. Hasil dari uji proporsi
ini yaitu seluruh responden (auditor) memiliki persepsi positif terhadap kode
etik ikatan akuntan Indonesia. Tapi dari hasil pengujian hipotesisnya, masing-
masing responden mempunyai perbedaan rata-rata perilaku etis yang signifikan
untuk setiap faktor-faktor individual yang dimilikinya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dikumpulkan dan diolah, diketahui
secara statistik, terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara
auditor internal locus of control dan auditor external
locus of control. Terdapat perbedaan perilaku etis yang signifikan antara
auditor senior dan auditor yunior. Tidak terdapat perbedaan perilaku etis yang
signifikan antara auditor pria dan auditor wanita. Terdapat perbedaan perilaku
etis yang signifikan antara auditor benevolents dan
auditor entitleds.
Sumber:
https://smartaccounting.files.wordpress.com/2011/03/kamp-03.pdf
Sumber:
https://smartaccounting.files.wordpress.com/2011/03/kamp-03.pdf